Menelusuri Motivasi Diri

Pernahkah Anda mengikuti sebuah training motivasi, seminar, dan sebagainya, namun semangat yang Anda miliki hanya bertahan dua atau tiga hari?

Pernahkah Anda merasa sangat bersemangat untuk melakukan sebuah kegiatan baru, akan tetapi belum genap satu minggu Anda sudah malas untuk melanjutkan kegiatan tersebut?

Ketika Anda merasakan hal-hal demikian, berarti ada yang salah dengan motivasi yang Anda miliki. Oleh sebab itu, mari kita telusuri bersama, dari mana motivasi itu berasal dan bagaimana mempertahankannya.

Menelusuri Motivasi Diri

MOTIF

Di dalam diri manusia, terdapat dorongan internal yang membuat manusia melakukan sesuatu. Dengan adanya dorongan internal ini, manusia bergerak dan melakukan beragam aktivitas seperti makan, minum, berjalan, belajar, bekerja, beristirahat, tidur, dan lain-lain. Begitu pentingnya dorongan internal ini karena jenis dorongan yang dalam diri Anda akan menentukan aktivitas apa yang akan Anda lakukan.

Manusia bisa bertahan hidup karena adanya dorongan rasa lapar yang memicunya untuk bergerak dan mencari makan. Apabila manusia tidak  memperoleh makanan, ia tidak akan bertahan hidup. Tubuh kita dilengkapi dengan penanda-penanda bahaya seperti perut keroncongan, lambung terasa sakit, dan badan terasa lemas, yang akan bekerja bila tubuh memerlukan makanan. Kita menyebutnya dengan rasa lapar. Dorongan rasa lapar merangsang kegiatan makan untuk menghentikan tanda-tanda bahaya tersebut. Rasa lapar ini menjadi motivator yang kuat, dan semua orang yang pernah mengalami kelaparan sudah membuktikannya.

Seorang mahasiswa begitu tekun mempelajari berbagai macam buku dan belajar sampai larut malam untuk menghadapi ujian. Rasa lelah dan kantuk seolah tidak ia hiraukan pada saat itu. Sementara di tempat lain, seorang petani mencangkul sawahnya dari pagi sampai terbenamnya matahari, tiada henti, untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Dari dua kejadian itu, kita dapat mengetahui bahwa ada sesuatu yang mendorong mereka melakukan aktivitas tersebut. Mereka memiliki alasan tertentu yang mendorong mereka melakukan suatu kegiatan. Alasan yang apapun yang mereka miliki menjadi penggerak dalam diri yang disebut dengan motif. Semua tingkah laku manusia pada hakikatnya mempunyai motif. Begitu pula dengan tingkah laku manusia yang terjadi secara otomatis (kebiasaan) mempunyai maksud tertentu meskipun maksud itu tidak disadari.

Motif dalam psikologi berarti rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga bagi terjadinya suatu tingkah laku. Pembahasan mengenai motif akan memberi jawaban atas pertanyaan mengapa seperti: “mengapa mahasiswa harus rajin belajar”, “mengapa petani harus bekerja keras”, “mengapa ia bertingkah laku demikan”, “mengapa ia bertingkah aneh”, dan sebagainya. Motif juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain misalnya pengalaman masa lalu, tingkat intelegensi, kemampuan fisik, situasi lingkungan, cita-cita hidup, dan sebagainya. Dalam suatu motif, biasa terdapat dua unsur pokok yaitu unsur kebutuhan dan unsur tujuan.

KEBUTUHAN

Motif pada dasarnya bukan hanya merupakan dorongan fisik, tetapi juga orientasi kognitif yang diarahkan pada pemuasan kebutuhan. Kebutuhan merupakan suatu yang fundamental atau penting adanya bagi manusia untuk menjalani kehidupan. Ada berbagai macam kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia agar dapat hidup sejahtera dan terhindar dari kekurangan dan penderitaan. Dalam bukunya yang berjudul Motivation and Personality, Maslow mengklasifikasikan kebutuhan manusia menjadi lima tingkatan. Kelima tingkat kebutuhan itu adalah sebagai berikut:

  • Kebutuhan fisiologis, yang merupakan kebutuhan paling mendasar untuk mempertahankan kehidupan fisik seperti makan, minum, oksigen, tidur, pakaian, dan tempat berteduh.
  • Kebutuhan rasa aman dan bebas dari bahaya. Kita memenuhi kebutuhan ini dengan mencari menjauhi hal-hal yang membahayakan dan menghindari sesuatu yang memiliki resiko.
  • Kebutuhan cinta, kasih sayang dan penerimaan dari orang lain. Kita memenuhi kebutuhan ini deng. an berkeluarga, berteman dengan orang lain, dan mengikuti komunitas atau organisasi. Tanpa ikatan ini kita akan merasakan kesepian.
  • Kebutuhan penghargaan, yang menjurus pada kepercayaan kepada diri sendiri dan perasaan diri berharga, kepercayaan dan perasaan ini disebut dengan self esteem. Maslow membagi kebutuhan penghargaan ini dalam dua jenis: Pertama, penghargaan yang didasarkan atas respek terhadap kemampuan, kemandirian, dan perwujudan diri. Kedua, penghargaan yang didasarkan atas penilaian orang lain.
  • Kebutuhan aktualisasi diri, kebutuhan ini timbul pada diri seseorang jika kebutuhan-kebutuhan lainnya telah terpenuhi. Perkembangan yang sehat terjadi bila manusia mengaktualisasi diri dan mewujudkan segenap potensinya. Seorang individu mendapat dorongan untuk mengaktualisasi diri melalui pendidikan dan kehidupan bermasyarakat.

hirarki kebutuhan maslow

TUJUAN

Tujuan berfungsi untuk memotivasi tingkah laku dan menentukan seberapa aktif individu akan bertingkah laku. Suatu tingkah laku pada dasarnya ditujukan untuk mencapai sebuah tujuan. Seorang individu melakukan sesuatu aktivitas atau kegiatan karena mempunyai alasan atau tujuan tertentu. Misalnya mahasiswa yang belajar sampai larut malam agar mendapat nilai yang baik pada saat ujian, dan petani yang bekerja keras untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Suatu tujuan tidak selalu diketahui secara sadar oleh seorang individu. Terkadang kita sendiri dibuat bingung dengan pertanyaan: “Mengapa saya melakukan hal ini?” Alasan dari tindakan kita sering kali tidak jelas bagi ingatan dan pikiran sadar. Stimulus-stimulus yang memotivasi pola perilaku individu sampai tingkat tertentu berasal dari alam bawah sadar sehingga tidak mudah untuk diperiksa dan dinilai.

Sebagai manusia, kita digerakan oleh dua gerakan kekuatan besar yaitu penderitaan dan kesenangan. Kita akan melakukan apa saja untuk menghindari penderitaan, dan kita punya hasrat yang kuat untuk memiliki kesenangan dalam hidup kita. Seorang yang sudah terbiasa merokok akan meneruskan kebiasaannya untuk terus merokok karena ia telah merasakan kesenangan berupa kenikmatan ketika merokok. Kita sering melihat betapa nyamannya seseorang yang merokok setelah ia makan, sambil minum kopi, atau hanya sekedar mengobrol dengan teman. Sulit untuk seorang perokok untuk bisa berhenti karena ia akan merasa menderita ketika harus berhenti dari kebiasaannya itu. Namun ketika ia ditimpa penyakit yang mengharuskan ia berhenti merokok, maka ia akan benar-benar berhenti untuk menghindari penderitaan dari penyakitnya.

Kenapa orang-orang ingin menikah, lalu sebagian dari mereka memilih untuk bercerai?

Kebanyak orang menegosiasikan pernikahan dengan perasaan bahagia dan kesenangan karena bersama pasangan. Mereka percaya pernikahan akan membuat mereka bahagia dengan menikmati cinta bersama pasangan, mempunyai anak, dan merasakan kehangatan keluarga. Mereka berfokus pada kebahagiaan yang tergambarkan dalam ikatan pernikahan. Akan tetapi, ketika sebagian orang menemui berbagai tantangan mulai dari perbedaan yang tidak terbendung, pertengkaran, dan ketidak percayaan,  mereka mulai merasakan penderitaan. Pada saat itu mereka hanya berfokus pada penderitaan dan tidak melihat apapun kecuali masalah dalam hubungan tersebut. Mereka merasa menderita dan ingin melakukan sesuatu untuk menghindarinya, hingga mereka pun memutuskan untuk bercerai.

Sebelum memutuskan untuk melakukan suatu tindakan, kita biasanya membayangkan hasil yang akan diperoleh dari tindakan tersebut. Bisa jadi yang kita bayangkan adalah bentuk suatu kesenangan atau penderitaan. Ketika yang dibayangkan adalah kesenangan, maka kita akan melakukan tindakan yang hendak dilakukan. Dan ketika yang dibayangkan adalah penderitaan maka kita akan berusaha menghindari tindakan tersebut. Dengan demikian, sudah sewajarnya kita akan berusaha untuk mencapai suatu keadaan yang menyenangkan atau membahagiakan, dan menghindari keadaan yang membuat kita merasakan penderitaan.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi muncul dari adanya dorongan untuk pemenuhan kebutuhan, atau adanya tujuan/alasan tertentu yang biasanya dipengaruhi oleh kecenderungan manusia untuk memperoleh kesenangan dan menghindari penderitaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s